Waktu berlalu begitu cepat seiring dengan usia ini.
Wahai ibu, kini aku sudah dewasa dan mulai tau betapa berat hidup ini.
S'moga Allah Ta'ala menempatkan engkau bersama orang-orang terkasihNYA. Amin
Sahabat, inilah kisahku
Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas 2 sekolah dasar. Hidup kami sangat pas-pasan, kadang kami hanya makan nasi sehari sekali. Itupun kalau ada.
Aku adalah seorang perempuan satu-satunya anak tunggal dikeluarga. Ayah dan Ibu sangatlah menyayangiku.
Demi kami, Ayah rela berpanas-panasan mencari bebatuan untuk dijual biar kami bisa makan dan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan Ibu hanya dirumah bersih-bersih dan mengurus aku.
Suatu hari ada tetangga yang pulang dari jakarta, katanya mau mencari orang yang mau diajak kerja dikota bersamanya.
Singkat cerita, diapun mencoba mengajak ibu kerja bersamanya. Dia bilang kalau dijakarta itu enak, cari uang gampang. Gara-gara kejadian itu ibu sering melamun dan terkadang ibu sering marah-marah tanpa sebab. Pernah suatu hari ayah dan ibu bertengkar katanya mau ndhak mau ibu mau ikut tetangga kekota jakarta untuk kerja.
Sebagai kepala keluarga, Ayah tak mengijinkan begitu saja keinginan ibu. Tapi gimana lagi, ibu setiap hari hanya marah dan marah. Akhirnya Ayah pun menuruti apa yang menjadi keinginannya yaitu kejakarta.
Sahabat, sore itu tepatnya jam 15:00 wib ibu berangkat kejakarta dan meninggalkan kami berdua aku dan Ayah. Aku hanya bisa menangis melihat kepergian Ibu yang selalu dan setiap hari menemaniku dirumah. Aku sedih dengan siapa lagi aku dirumah kalau Ayah sedang kerja? Terus apa aku bisa memasak?
Ayah menatapku sambil tegar Ayah bilang ''Fitri cantik sekarang dirumah sama Ayah ya? Fitri ndhak boleh sedih, khan ada Ayah!? Nanti malam ngajinya sekarang sama Ayah ya fitri cantii..k?
Mendengar ucapan Ayah seperti itu aku mulai berhenti menangis karena merasa tenang.
Setelah kepergian ibu aku mulai mencoba mandiri, mulai bersih bersih rumah menyiapkan pakaian sekolah dan sepatu. Selebihnya Ayah yang mengerjakan. Sebelum Ayah berangkat kerja, Ayah selalu bercanda dulu dan menyium pipiku.
Singkat cerita, tak terasa sudah 4 tahun hari-hari kami lalui hanya bersama Ayah tercinta. Selama itu ibu belum pernah memberi kabar kepada kami. Entah kenapa ibu begitu tega kepada kami. Sebenarnya aku rindu sama ibu.
Sekarang aku sudah duduk dibangku kelas 6 SD. Suatu ketika aku sedang ada ujian akhir disekolah, tiba-tiba ibu kepala sekolah masuk keruang ujian dan mendekatiku. Ibu kepala sekolah bilang ''fitri Sudah, kertas so'alnya ditauh dulu sama pensilnya. Fitri ikut ke ruangan ibu yuk.'' tanpa banyak bicara akupun mengikuti ibu kepala sekolah keruangan kantor. Setelah sampai diruangan, tanpa banyak kata ibu kepala sekolah mengajak fitri pulang bersama. Karena bingung, akupun bertanya kepada ibu kepala sekolah. ''ma'af bu, kok fitri diajak pulang bu? Padahalkan belum jamnya?'' jawab ibu kepala sekolah ''sudah, ikut ibu saja''.
Singkat cerita akhirnya kami pun pulang bersama ibu kepala sekolah. Setibanya dirumah fitri, fitri kaget karena banyak orang dirumah fitri. Tiba-tiba ibu kepala sekolah memegang pundakku dan berkata '' fitri, Ayah fitri sedang kena musibah. Sekarang Ayah fitri dirawat dirumah sakit. Fitri ndhak usah khawatir, Ayah fitri nanti juga sembuh kok''. Sentak aku pun menangis waktu itu. Ibu kepala sekolah mencoba menenangkanku, tapi tetap saja air mata ini selalu keluar.
Setelah aku agak tenang ibu kepala sekolah menceritakan musibah yang di alami Ayahku.
Ibu kepala sekolah bilang kalau Ayahku jatuh dan tertimpa batu. Tanpa terbendung lagi aku mulai menangis kembali.
Singkat cerita, Akhirnya Allah Ta'ala berkehendak lain. Ayah tak bisa ditolong dan meninggalkan aku sendiri.
Setelah kejadian itu untuk sementara waktu aku tidur dirumah ibu kepala sekolah. Ibu kepala sekolah bilang kalau nanti aku akan diajak pergi temannya kekota dan akan dijadikan anak asuhnya. Ibu kepala sekolah berpesan ''fitri, jadilah anak yang tegar seperti Alm Ayahmu. Yang mengasuh kamu nanti adalah keluarga yang tidak punya keturunan. Seorang yang berilmu agama (ustadz)''.
Singkat cerita, sekarang aku sudah menjadi anak angkat seorang ustadz yang kaya raya dan umi yang baik yang mau menyayangiku. Tapi hati ini masih merindukan Ibu, hanya ibu dan ibulah yang selalu kurindukan.
Beranjak usiaku 17 tahun. Singkat cerita, waktu itu pagi-pagi sekali jam 05:00 wib kudengar suara orang ngobrol diruang tamu. Tak lama selang beberapa menit umi angkatku memanggil dan menyuruhku ke ruangan tamu. Setelah sampai di ruang tamu, tiba2 seorang ibu yang sama sekali tak kukenal tiba-tiba merangkul dan mendekapku erat sambil menangis. Dan ternyata ibu tadi adalah ibu kandungku.
Perasaan senang, sedih, sakit menjadi satu waktu itu. Disaat ibu memelukku tiba-tiba ibu batuk-batuk dan mengeluarkan darah dan akhirnya pingsan. Kami panik waktu itu.
Singkat cerita. Akhirnya Ibu pun menyusul Ayah.
Sahabat, semoga kisah ini bisa menjadi hikmah buat kita. Amin
Story Memories
Selasa, 01 Januari 2013
Senin, 31 Desember 2012
Memories
Dulu aku kenal seorang cewek sebut saja IRA.
Dia seorang pelajar SMP kelas III.
Cantik pemalu tapi pintar.
Bagiku, dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri.
Memories
Suatu ketika aku mau berangkat kuliah, aku lihat dia diteras rumahnya sedang melamun sendiri.
Tanpa berfikir panjang, aku pun berhenti dan mampir sebentar kerumahnya.
Singkat cerita, akhirnya dia menceritakan semuanya ke aku.
Dia menangis dan bercerita kalau cowoknya menghianatinya dan berakhir dengan putusnya hubungan mereka.
Memories
Jujur, aku tidak tega melihat dia menangis dan bersedih seperti itu.
Akhirnya aku pun mencoba menghibur dia dengan humor walau tak sepintar pelawak.
Memories
Ternyata dari lelucon dan guyonan itu berakhir dengan sesuatu hal yang sama sekali tak ku inginkan.
Dia meminta aku untuk menjadi kekasihnya.
Aku terdiam sejenak.
Aku bingung harus bilang apa ke dia, padahal dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri.
Tapi aku tak tega melihat dia bersedih terus.
Singkat cerita, akhirnya akupun menuruti apa kemauannya.
Memories
Hubungan kami berjalan sudah 8 bulan.
Dalam pacaran, hanya kehampaan yang ku rasakan.
Entah sampai kapan ini kulalui.
Aku bingung harus bagaimana.
Aku tak mau dia sedih.
Aku tak mau dia menangis lagi.
Tapi sampai kapan diri ini membohonginya?
Biarlah waktu yang menjawab.
Memories
Suatu hari dia main ditempat kos ku.
Aku berfikir, mungkin inilah sa'atnya aku harus jujur tentang semuanya dan tentang kebohongan semua ini.
Tapi aku tak tega!
Memories
Walau dengan berat hati, akhirnya aku pun jujur ke dia tentang semuanya.
Dia terdiam, dan perlahan kulihat dia mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
Aku tak tega melihat dia seperti itu lagi, menangis dan menangis.
Tapi aku tak mau menyakiti dan mempermainkan perasa'annya terus-menerus.
Memories
Singkat cerita, akhirnya diapun menerima keputusanku dan mau mengerti tentang semua ini.
Walau mungkin berat bagi dia untuk menerimanya.
Buat IRA ma'afkan aku
KISAH DARI SAHABAT
Dulu aku kenal seorang cewek sebut saja IRA.
Dia seorang pelajar SMP kelas III.
Cantik pemalu tapi pintar.
Bagiku, dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri.
Memories
Suatu ketika aku mau berangkat kuliah, aku lihat dia diteras rumahnya sedang melamun sendiri.
Tanpa berfikir panjang, aku pun berhenti dan mampir sebentar kerumahnya.
Singkat cerita, akhirnya dia menceritakan semuanya ke aku.
Dia menangis dan bercerita kalau cowoknya menghianatinya dan berakhir dengan putusnya hubungan mereka.
Memories
Jujur, aku tidak tega melihat dia menangis dan bersedih seperti itu.
Akhirnya aku pun mencoba menghibur dia dengan humor walau tak sepintar pelawak.
Memories
Ternyata dari lelucon dan guyonan itu berakhir dengan sesuatu hal yang sama sekali tak ku inginkan.
Dia meminta aku untuk menjadi kekasihnya.
Aku terdiam sejenak.
Aku bingung harus bilang apa ke dia, padahal dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri.
Tapi aku tak tega melihat dia bersedih terus.
Singkat cerita, akhirnya akupun menuruti apa kemauannya.
Memories
Hubungan kami berjalan sudah 8 bulan.
Dalam pacaran, hanya kehampaan yang ku rasakan.
Entah sampai kapan ini kulalui.
Aku bingung harus bagaimana.
Aku tak mau dia sedih.
Aku tak mau dia menangis lagi.
Tapi sampai kapan diri ini membohonginya?
Biarlah waktu yang menjawab.
Memories
Suatu hari dia main ditempat kos ku.
Aku berfikir, mungkin inilah sa'atnya aku harus jujur tentang semuanya dan tentang kebohongan semua ini.
Tapi aku tak tega!
Memories
Walau dengan berat hati, akhirnya aku pun jujur ke dia tentang semuanya.
Dia terdiam, dan perlahan kulihat dia mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
Aku tak tega melihat dia seperti itu lagi, menangis dan menangis.
Tapi aku tak mau menyakiti dan mempermainkan perasa'annya terus-menerus.
Memories
Singkat cerita, akhirnya diapun menerima keputusanku dan mau mengerti tentang semua ini.
Walau mungkin berat bagi dia untuk menerimanya.
Buat IRA ma'afkan aku
KISAH DARI SAHABAT
Langganan:
Komentar (Atom)